Selasa, 16 Juli 2024

Apa yang dimaksud dengan anak yang berkebutuhan khusus?

 SIAPAKAH ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS ITU?

(Mengenal anak berkebutuhan khusus.)

 

            Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami kelainan pada fisik, emosional, mental, intelektual dan atau sosialnya. Yang dapat dikategorikan sebagai anak berkebutuhan khusus adalah anak Tunenetra (A), Tunarungu (B), Tunagrahita (C), Tunadaksa (D), Tunaganda (G), Tunalaras, Down syndrome, Autis dan anak berbakat. Dengan perbedaan ketunaan itulah mereka memiliki hambatan dan penanganan yang berbeda pula. Berikut adalah penjelasan tentang berbagai kategori anak berkebutuhan khusus:

1.      Tunanetra

Tunanetra adalah sebuah kondisi dimana seseorang yang mengalami gangguan pada penglihatannya, baik itu berupa gangguan total atau bahkan hanya sebagian penglihatan saja. Dalam kondisi seperti ini, seorang anak haruslah mendapatkan pendidikan kebutuhan khusus sejak dini, terutama jika kondisi ini memang dibawa anak sejak lahir. Anak yang mengalami tunanetra biasanya memiliki daya ingat yang bagus, suara yang merdu dan pendengaran yang tajam. Hal tersebut dikarenakan anak tunanetra mengandalkan pendengarannya untuk mengenal lingkungan baru dari indra perabaan dan pendengarannya.

2.      Tunarungu

Seseorang yang mengalami gangguan pada fungsi pendengaran disebut tunarungu. Gangguan ini bisa saja berupa kehilangan seluruh fungsi pendengaran atau bahkan sebagian saja. Pada umumnya, anak tunarungu akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, termasuk bersosialisasi dengan orang lain dan lingkungannya. Anak tunarungu biasanya memiliki kecerdasan yang bagus, memiliki tingkat fokus yang tinggi, terampil untuk membuat sebuah keterampilan.

3.      Tunagrahita

Tunagrahita adalah seseorang yang mengalami masalah di dalam perkembangan mentalnya. Hal ini bahkan bisa saja berupa kondisi keterbelakangan yang membuatnya mengalami masalah dalam berbagai bidang, misalnya: kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi, kesulitan dalam belajar dan memahami suatu masalah. Pada umumnya anak tunagrahita memang membutuhkan penanganan khusus, meskipun tidak tertutup kemungkinan mereka untuk belajar mandiri. Anak tunagrahita juga mengalami hambatan kecerdasan. Anak tunagrahita ada beberapa tingkatan menurut kecerdasannya ada yang debil (berdaya pikir rendah atau berkemampuan berpikir tidak lebih daripada daya pikir anak yang berumur 12 tahun)[1] dan imbisil(Kecerdasannya anak imbecile ini sama dengan-anak anak normal di usia 3 sampai 7 tahun)[2]. Namun, anak tunagrahita masih bisa untuk dilatih walaupun membutuhkan waktu lebih lama dan secara berulang – ulang.

4.      Tunadaksa

Tunadaksa adalah seseorang yang mengalami masalah/kelainan pada alat gerak tubuhnya. Kondisi ini bisa saja berupa cacat permanen, terutama pada anak yang memang mengalami masalah tersebut sejak lahir. Seorang anak tunadaksa biasanya akan membutuhkan seorang pendamping dan juga pendidikan khusus untuk melatih gerak tubuhnya. Anak tunadaksa biasanya memunyai kecerdasan yang bagus, tetapi ada juga yang sama seperti anak normal lainnya untuk tingkat kecerdasannya. Anak tunadaksa bisa melakukan aktivitas sehari – hari sesuai dengan keadaan fisiknya.

5.      Tunaganda

Tunaganda (doble handicap atau multiple handicap) adalah anak yang memiliki kombinasi kelainan (baik dua jenis kelainan atau lebih) yang menyebabkan adanya masalah pendidikan yang serius, sehingga dia tidak hanya dapat diatas dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja, melainkan harus didekati dengan variasi program pendidikan sesuai kelainan yang dimiliki.

Macam-macam Tunaganda:

  • a)              Tunanetra-tunawicara.
  • b)              Tunanetra-tunarungu.
  • c)              Tunanetra-tunadaksa.
  • d)              Tunanetra-tunagrahita.
  • e)              Tunanetra-tunalaras.
  • f)               Tunanetra-kesulitan belajar khusus.

 

6.      Tunalaras

Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. Individu tunalaras biasanya menunjukan perilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku di sekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.

7.      Down syndrome

Sindrom Down atau Down syndrome adalah kelainan genetik yang menyebabkan penderitanya memiliki tingkat kecerdasan yang rendah, dan kelainan fisik yang khas. Sebagian penderita dapat mengalami kelainan yang ringan, tetapi sebagian lainnya dapat mengalami gangguan yang berat hingga menimbulkan penyakit jantung.


8.      Autis

Autisme adalah gangguan perkembangan otak yang memengaruhi kemampuan penderita dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Di samping itu, autisme juga menyebabkan gangguan perilaku dan membatasi minat penderitanya. Autis bisa diketahui lebih dini saat anak berusia satu tahun jika dirasa berbeda dengan anak lainnya untuk mendapatkan penanganan lebih cepat. Anak yang dirasa berbeda bisa langsung untuk dibawa pada dokter psikologi anak agar dapat segera ditangani lebih intensif. Autisme bukanlah sebuah penyakit yang harus disembuhkan, autisme adalah sebuah disorder (penyimpangan) yang dapat diubah agar memiliki kegiatan dan aktivitas yang sama dengan umumnya anak seusianya. Terlebih agar anak autis memiliki fokus yang lebih pada sesuatu hal.


9.      Anak berbakat (gifted)

US Office of Education (USOE), dalam Marland (1971), menyepakati yang dimaksud dengan anak berbakat adalah anak yang diidentifikasi oleh orang-orang profesional, di mana anak tersebut karena kemampuannya yang sangat menonjol dapat memberikan prestasi yang tinggi. USOE menekankan bahwa anak berbakat diperkirakan mampu menunjukkan prestasi keberbakatannya dan mampu mengaplikasikan keberbakatannya untuk sekitarnya. Sehingga, keberbakatannya dapat membawa manfaat untuk negaranya.

Sebagai seorang yang mengetahui, mengenal dan memahami anak berkebutuhan khusus. Melalui buku artikel ini akan menjadi sebuah pembuka dan jalan bagi masyarakat awam untuk memulai setidaknya mengenal mereka. Masyarakat awam masih sering memandang rendah dan remeh anak berkebutuhan khusus pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari pun anak berkebutuhan khusus tidak jarang mendapat perlakuan yang berbeda dengan anak normal lainnya. Hal tersebut dikarenakan masyarakat awam umumnya tidak mengetahui kondisi dari anak berkebutuhan khusus. Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dengan anak normal, baik hak untuk mendapat kehidupan yang layak, mendapat hak untuk berpendidikan, mengemukakan pendapat, menghasilkan karya, mendapatkan kondisi yang aman, nyaman, dan mendapatkan kasih sayang. Anak berkebutuhan khusus juga ingin menunjukkan bahwa dirinya mampu seperti anak normal lainnya untuk dapat berprestasi dalam bidang Pendidikan, olah raga, seni, sastra ataupun keterampilan.

Banyak siswa dari anak berkebutuhan khusus yang mampu memiliki karya dan mampu untuk bersaing dengan anak normal lainnya. Mereka sangat senang jika diperlakukan sama dengan anak lainnya. Mereka pun juga sangat menyukai jika dibimbing seorang yang professional untuk menunjang dan membantu mereka mendapatkan prestasi dan pencapaian yang mereka inginkan sesuai dengan kemampuan. Bagi guru/terapis ABK mereka sama sekali tidak memiliki kekurangan, malah mereka dianggap sebagai anak dengan kondisi yang spesial. Dengan kondisi mereka yang spesial tersebut tidak membuat mereka berhenti untuk selalu berprestasi. Banyak dari siswa dan para orang tua ABK yang sangat mendukung tentang lomba/parade untuk menunjang dan mendukung keterampilan mereka. ABK sangat membutuhkan dukungan untuk mendapatkan rasa percaya diri mereka agar ketika mereka berada dilingkungan umum atau keluar dari lingkungan sekolah, mereka mampu untuk beradaptasi dan bersosialisasi.

           

           

           



[1] Kamus Besar Bahasa Indonesia online, diakses dari https://kbbi.web.id/debil, pada tanggal 01 Oktober 2019 pukul 08.33.

[2] Kuya Hejo website, diakses dari https://kuyahejo.com/pengertian-dan-tingkatan-iq/, pada tanggal 01 Oktober 2019 pukul 08.39.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Video Digital Storytelling "Bukit Geger"

  Bukit Geger